Cerita Ngentot MANJA INI MEMBUNUH MALAMKU

Gila Seks Terkini – Cerita ini berawal ketika saya baru lulus SMA. Aku hanya sibuk – universitas sibuk. Pahami kota pelajar, semua orang sibuk mencari-cari sekolah. Tidak ada wanita bisbol yang sibuk berurusan dengan legalisir, diploma, formulir pendaftaran dan sebagainya. Begitu juga dengan saya. Aku telah memutuskan untuk pergi ke universitas negeri yang paling terkenal di kota. Untuk itu saya harus bekerja keras untuk lulus UMPETAN, masuk perguruan tinggi negeri ujian. Salah satu perjuangan saya adalah belajar sambil mencari mentor yang tahu tentang masalah UMPETAN.

Sore itu ketika saya tertegun di serambi rumah ngepasin merasa lelah setelah belajar sepanjang hari, Anto datang dengan motor barunya ‘ngacir’.

“Heh, … masuk dan keluar!” Kukatakan biarkan dia masuk ke rumahku.

“Dia … dia … dia … dia …, tidak perlu, … aku cepat” jawabnya sambil meringis seperti kuda.

“Apa sih, koq kesusu ya? Dateng baru sudah mau ngacir lagi!, Duduk dulu!” Kataku kesel.

“Anak itu tidak baik?”, Katanya dengan tidak benar,

“Kamu sudah mandi belon?”.

“Lezat aja, ya tidak, saya tidak tahu kamu aja!”, Timpalku.

“Udah, cepat, jangan mandi, ganti baju disana, lalu pakai sepatu, kamu ikut dengan saya”.

“Uh, apa ini aku bukan polos pak Bukan aku yang mencuri kemaluannya, he .. dia .. ada apa?”

“Aaah, tidak perlu tanya banyak, cepat !!!”, katanya jahit. “Ya, ya, … santae aja”, jawab saya.

Cerpen saya dan antok pergi bersama motor ngacirnya. Di tengah perjalanan aku mulai tidak menunggu. Saya bertanya kepada Antok yang sedang berkonsentrasi mengendarai sepeda motor.

“Eh, kemana kamu pergi? Seperti cerita detektif aja pake rahasia – rahasia semuanya!”,

“Tenang saja, katanya kita ingin lulus UMPTN, naah, saya ajak saya ke tempat yang saya tahu, dia tentor tuntunan belajar ‘primagama’. Sekarang dia tidak lagi mengajar. Jadi, .. kita bisa belajar sama dia untuk? “, jawabnya.

“Huuuu … saya pikir di mana … jika Anda tahu, saya tidak mau datang …. Cukup lelah nih otak saya, sepanjang hari hanya memikirkan sinus kosinus yang sama adalah namanya”, kataku singkat.

“Sinterklas aja, ntar disana kamu akan seger lagi, dijamin deh!”, Jawabnya. Ya, saya pikir. Pokoknya mau lagi, sudah jauh dari rumah juga.

10 menit kemudian kami sampai di daerah utara kota pelajar tercinta ini. Daerah ini terkenal sejuk dan sepi, begitu banyak orang datang ke sini untuk refreshing dan tentunya berkencan. Dulu saya sering kesini pacaran saya yang begitu sableng rada. Begitu kita sengaja berkencan disini malem – malem, karena sepi dan tentu saja bisa sedikit menyenggol di sana senggol disini. Ada seni sendiri berpacaran sambil duduk di atas sepeda motor. Seringkali, kita memiliki tempat favorit, tempat yang strategis dimana tidak ada yang bisa melihat kita bersama.

Tapi sebaliknya, dari tempat itu kita bisa ngawasin bebas segala perilaku orang yang datang dan berkencan. Seringkali kita saling bertemu saat melihat ‘live show’. Saya sering bermain di klitorisnya dan dia juga dengan lembut menggosok otongku saat kami berdua ngitip orang gituan dari jarak yang cukup dekat. Kami berdua pasti masih berpakaian lengkap karena takut tiba-tiba ada orang yang mergokin. Agar pakaian kita tidak kotor, saya sering memintanya ngisep ke klimaks di mulutnya.

Awalnya dia tidak menyukainya, tapi setelah dia mencoba ngrasain indra sperma saya, dia ketagihan. Gadis yang baik, jika klimaks tidak ngeluarin cairan sebanyak cowok jadi tidak perlu repot – repot mbersihinnya. Cara berkencan kayak gini ini membuat kami berdua puas – puas. Jadi puas, begitu jam terbang saya bisa klimaks empat sampai lima kali sementara dia bisa sampai belasan atau bahkan belasan kali, gila nggak?

Ingatanku bubar karena tiba-tiba Anto menyalakan motornya menuju rumah besar. Tidak terlalu mewah, bertingkat dua, dan terawat. Saya tidak sadar jika kita berdua sudah sampai di beranda.

“Tunggu sebentar?”, Kata Antok. Setelah turun dari motor Antok masuk ke rumah sementara saya ditinggalkan sendirian di halaman depan seperti blo’on.

Pemandangan yang bagus. Saat itu sekitar pukul setengah enam, matahari terbenam cerah dan sangat bagus. Rumah bagus, pikirku. Tenang, sejuk, jauh dari keramaian, kanan kiri hanya sawah. Tetangga pergi jauh sekali.

“Hei, berkeliaran !! Ntar kebobolan setan baru tahu seleramu !!”, geram si Antok yang rupanya sudah muncul lagi.
“Heh? Sudah? Senang meninggalkan orang!”, Jawabku.
“Sangat marah! Ayo masuk, saya kenal sama mbak Mirna”, katanya sambil meringis gigi mamerin.
“Mbak Mirna? Tentornya cewek? Aku kirain cowok !!”, jawabku.
“Hei .. ayo pergi …. Kenapa masih di luar ??? masuk … masuk!” Ternyata mbak Mirna, kenalan Antok telah membuka pintu kamar tamunya.

Manis juga, pikirku. Kulitnya putih putih, tinggi, sedikit lebih tinggi dari pada Antok. Kira-kira sekitar 163 cm. Wajahnya lonjong dengan hidung yang tajam. Yang paling menarik adalah bibirnya. Merah kecil pecah. Rambutnya hitam di bahu. Tubuhnya cukup bagus, agak kurus namun gemuk, terutama pantat dan dada.

Dia mengenakan rok putih pendek dan kemeja longgar. Kakinya sangat putih. Dari kemeja semi transparannya dia bisa melihat Bhnya yang ketat. Bra yang dia pakai adalah model BH tanpa gantungan baju, jadi pasrah saja. Saya tidak tahu seperti apa nama tapi sangat seksi. Kata Antok mbak Mirna ini baru berumur 24 tahun. Masih muda, pikirku.

Tanpa dua petunjuk, kami bergegas masuk

“Kenalin Di, ini mbak Mirna, kenalan saya … dia baik,” katanya dengan senyuman aneh.

“Andi”, saya katakan mengenalkan diri sambil mencoba memberi senyuman senyaman mungkin.

“Mirna”, jawabnya.

Tangan Mirna benar-benar mulus. Pikiran saya mulai ngeres mbayangin bagaimana jika tangan halus membelai Otong.

“Teman SMA-nya Antok ya?”, Dia memintaku untuk memecah pikiran saya.
“Eh, enggak kok kok, kita ketemu saat dia portir di pasaran,” kataku sambil mencoba bercanda.

Pok Tangan Antok mendarat di kepalaku

“Bagus sekali! Kuli kamu!”, Katanya.
“Dia .. dia … ..”, saya cengengesan.
“Udah, udah … ayo kita duduk dulu”, kata mbak Mirna sambil tertawa.

Kami duduk di kursi ruang tamu mewahnya.

“Rumah sendiri mbak?”, Saya bertanya basi.

“Oh, enggak … disewa, sewa rumah bersama teman-teman saya, lebih nyaman menyewa rumah”, katanya.

“Koq sepi?” Tanyaku lagi

“Ya, untuk pengajaran di ‘primagama ya ginilah keadaan, di pergantian rumah, paling banyak mereka pulang jam sembilan, Eh, sebentar saja, jangan minum dulu.”. Sesaat kemudian Ms. Mirna masuk.

“Uh, … Di, saya pergi rokok sebentar ya? Anda di sini dulu, paling tidak lima belas menit saya pergi”, kata Antok tiba-tiba.

“Tidakkah kamu hanya membeli di jalan?!”, Kataku.

“Lupa, sebentar saja?”, Katanya ngeloyor pergi.

Tak lama kemudian dia berkata, … Saya tahu jika kepergiannya akan lama, karena Antok adalah perokok fanatik merk Marlboro yang sama. Kalau merek bisbol dia tidak mau. Dan merek itu biasanya hanya dijual di toko-toko besar seperti supermarket. Apalagi, selama perjalanan di sini saya tidak melihat supermarket, jadi pasti sudah lama berlalu. Kudengar motor Antok tinggalkan aku sendiri. Ah, neraka, …. Terus lama, biar bebas untuk bicara dengan Ibu Mirna, pikirku.

“Kenapa, dimana Antok?”, Tanya Mirna mbak yang tiba-tiba muncul sambil membawa dua gelas es teh alias es teh.

“Pergilah mbak, pergi rokok”, jawabku sebentar.

“Baiklah, …. Mari kita minum dulu ..”, jawab mbak Mirna

“Hanya saja, bukan papa kan?”.

“Ma suka mbak … .. benernya pengen susu sih, tapi …. gak papa deh ..”, saya jawab setengah bercanda setengah sesat.

“Dasar ..”, kata Mirna mbak sambil tersenyum manis.

Mbak Mirna duduk di depanku. Saat dia duduk saya kaget karena dia tidak menggunakan cd. Ini bisa saya lihat karena mbak Mirna duduk tidak rapi. Kaki mulusnya sedikit terbuka. Dari mana saya duduk tidak begitu jelas enggak tapi saya yakin jika dia tidak menggunakan cd karena di rok itu jelas saya tidak melihat selembar kain. Sambil minum aku terus mandangin bagian bawah Mirna mbak. Sepertinya mbak Mirna enggak sadar akan hal ini karena mataku terlihat sedikit ketutup kaca yang saya pegang. Tau kalo tidak ada barang bagus yang otong mulai bertingkah. Yang lain mulai terbangun, ini membuatku menyembunyikan usaha untuk menyembunyikan sikap mereka.

“Kamu bisbol ngerokok, Di?”, Tanya mbak Mirna kaget.

“Eng … Nah mbak ..”, jawabku terbata-bata.

“Mbak Mirna enggak ngerokok?”, Tanyaku balik.

“Eh, … enggak, mbak lebih suka coke nyedot”, jawabnya agak nakal. Celakalah, kali ini otong benar-benar tidak bisa diajak untuk tenang lagi, otong spontan menusuk di balik celana saya. Kepalanya di bawah celana membuatku kaget.

“Eh, … mbak … bisa pinjem kamar mandi”, aku bertanya sedikit panik.

Sepertinya Ms. Mirna sempat melihat nyembulnya autopilant ini. Dia tampak sedikit terkejut.

“Bisa, … masuk …. Lonely koq, tidak ada kamu pergi aja aja, ntar kamar mandi di sebelah kiri.” Jawab mbak Mirna.

Sambil mencoba menutupi Otong untuk menjaga sopan santun, aku bergegas ke kamar mandi untuk mengatur lokasi. Kamar mandi juga luas. Keranjang lengkap dan mewah. Di sudut kanan ada bak mandi ukuran sedang, disebelahnya ada shower, dan laen sehingga semuanya benar-benar putih. Segera aku menutup pintu kamar mandi. Aku buru-buru membuka kancing celanaku dan meraihnya. Si otong kali ini bener bener bener bener bening. Pria gemuk panjang itu sulit dicicipi, sudah diminta untuk dikocok seperti. Aku belum sempat mbenerin tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.

Sial, aku rupanya lupa mengunci pintu. Perasaan panik saya lenyap dengan rasa kegembiraan saat orang yang muncul dari balik pintu adalah Mbak Mirna. Yang segera berdenyut melihat situasi yang terjadi, dia tahu kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya. Sekarang dengan sengaja aku tidak menutupi celanaku agar Mirna bisa melihat dengan jelas penisku.

“Eh, maaf maaf, nih mau nganterin sabun ….”, kata mbak Mirna berhenti.

Mulutnya terbuka dan matanya melotot pada batang penisku. Kami berdua tertegun sejenak. Lalu pelan-pelan tanganku mulai menggoyang batang penisku perlahan. Mbak Mirna tetap diam sementara merhatiin apa yang saya lakuin.

“Tolong semua sabunin batang penis saya ya .. ..”, ajak saya harap. Mbak Mirna terlihat ragu.

Aku mendekatinya perlahan. Aku menarik tangannya dan membawanya ke Otong. Dia memegang Otong dengan ragu-ragu. Lalu dengan lembut dia mulai mengocok batang penisku dengan pasang surut. Fantasi juga fantasi saya untuk menjabat tangan halus.

“Delicious Di?”, Tanyanya dengan lembut penuh nafsu.

“Ahh …” nah begitu baik … .uh … “tanpa tanganku mulai memeluk payudaranya yang buatan.

“Ssshh .., ahh … jangan …” mbak Mirna merintih santai.

Aku mengabaikan pembicaraan itu, tanganku mulai meraih payudaranya. Mbak Mirna mulai terangsang tangannya mulai mempercepat irama menggosok. Segera tanganku melepaskan kancing kemeja dan bra. Begitu pakaian dan branya jatuh ke lantai, payudara Mirna bisa terlihat dengan jelas.

Padat dan putih sempurna dengan puting pink. Memasukkan susu itu disapu ke depan untuk menunjukkan cermin pada payudara Ms. Mirna. Aku segera meremas payudara kirinya sementara lengan kananku terpelintir dan menarik puting kanannya.

“Ah ……” Mirna mbak makin mereda.

Kutaruh kepalaku ke dadanya, aku hisap – hisapan puting kanannya. Mbak Mirna semakin menggelinjang. Tangan kananku mulai bergerak ke bawah, membelai perutnya yang lebat. Mbak Mirna semakin terangsang dengan cepat ia melorotkan jeans dan cd saya. Otong langsung menendang keluar menunjukkan seluruh bentuk. Mata Mirna tak lepas dari Otong. Tangannya mulai mengelus testisku dengan tangan ganas saat tangannya yang lain mengeras peluitnya.

Rasanya enak menggosokkan tangannya dengan otong. Perasaan baik terhadap seluruh saraf saya sehingga tanpa kesadaran saya, tubuh saya mulai bergetar. Kedua tanganku langsung bergerak menjelajahi memek Mbak Mirna. Dengan satu tangan mengangkat rokku sementara tanganku yang lain mulai menelusuri lebih dalam. Ternyata memang mbak Mirna tidak pakai cd, saya bisa dengan mudah menemukan klitoris di celah pussy. Mbak Mirna sepertinya sudah mencukur rambutnya karena tangan saya tidak menemukan potongan rambut disana dan saya merasa pusing licin dan bersih. Model pussy seperti ini yang membuat saya terangsang hebat.

Aku membuka lubang pussy.

“Ah …… enaaak …” Mirna meniru penghibur saat aku menggosok klitorisnya dengan lembut. Aku memutar klitorisnya dengan ibu jari saat jari tengahku mulai memasuki lubang basah yang sudah basah.

Tiba-tiba Ibu Mirna menarik tanganku, tanpa waktu aku mengatakan apapun yang dia tekuk dan dengan paksa memasukkanku ke dalam mulutnya. Jerami terasa enak. Lidah Ms. Mirna bermain di bagian sensitif saya sementara mulutnya mengisap bolak-balik membuat saya merasa sedih.

Tanganku meremas payudaranya dan bokongnya kuat, lebih kuat dari pada sedotannya.

“Mmmmmmm … ..”, mbak Mirna mengeluhkan kenyamanan. Beberapa detik kemudian selera yang bagus tidak bisa menghentikan saya.

“Ahhh … mbak, aku mau klimaks ya … .uh … ..”. Mbak Mirna tidak menjawab, hanya mempercepat pergerakan mulut dan lidahnya.

Saya tidak tahan lagi, sperma saya keluar dengan tergesa-gesa. Begitu banyak keluar bahwa sperma saya keluar dari mulutnya. Setelah 6 sampai 7 kali semprotan, saya mudah lemas. Mbak Mirna tahu kalau aku puas, dia mulai melonggarkan sedotan, lalu melepaskannya dari mulutnya.

Mbak Mirna tersenyum nakal, rupanya dia telah menelan semua sperma saya, sementara tetesan sperma yang lolos dari mulutnya menetes ke payudaranya. Meski sudah mencapai klimaks, otong pun masih belum mau lepas. Mengetahui bahwa situasi Otong sangat menantang, Mbak Mirna tidak puas segera kembali beraksi. Di belakangku. Dia membungkuk, lorotkannya rok putih sambil memamerkan vaginanya dari belakang. Crazy, bentuknya bagus, pikirku. Vagina yang licin berwarna merah muda. Karena tidak ada siapa-siapa

Rambut yang menutupi itu, saya bisa melihat dengan jelas setiap lengkungan vaginanya.

Mengisap vagina dengan bibir yang mematahkannya menantang saya. Tidak bisa melewatkan kesempatan untuk ngerasain vagina cewek ini. Kuremas pussy dari belakang, klitoris kugesek dengan semua jariku. Kugosok – gosok klitorisnya dengan cepat.

“Sssss … cepetan Di, … cepet masuk penismu … aku sudah tidak tahan … .. ssss”, mbak Mirna memohon. Kemudian dengan jari telunjuk dan jari tengah buka bibir vagina saya.

Yang tidak langsung saya kujujamkan keliang vaginanya yang terbuka.

“Ahhh …”, mbak Mirna merintih kemudahan karena otong benar-benar bener – menuhin memeknya dari dalam.

Dengan beberapa dorongan, aku mendorong Otong menempel di leher rahimnya. Mirna mbak Mirza rasanya bener bener. Lezat ngerasain pussy yang menyeretnya.

Kali ini saya menggerakkan pinggang saya bolak-balik dengan kuat, mbak Mirna nampaknya menyukainya.

“Terusss … ahh …. lebih cepat … lebih cepat …. Ahhh …” Tangan kiri Mirna mulai menggosok klitorisnya sendiri menggantikan tanganku.

Saya mempercepat gerakan saya sampai terdengar suara gesekan dengan pus Mirna mbak. Aku memegang pinggang Mirna dengan kedua tanganku untuk membantu Otong masuk dan keluar. Mbak Mirna juga tidak ingin tetap diam, ia memutar pinggulnya erat-erat. Segera Ms. Mirna memulai
menggelinjang, menggelepar – ngomel sambil mengerang santai.

Kurang dari lima detik kemudian tubuhnya mengencang. Sambil meneriakkan pakaian Mbak Mirna mencapai klimaks. Aku merasakan denyutan pussy memijat Otong dengan keras. Situasi ini membuat Otong muntah untuk kedua kalinya. Kami berdua mengerang kenyamanan. …

Sesaat kemudian, kami tinggal di lantai porselen putih di kamar mandi. Kami berdua tersentak, mengatur napas yang mungkin sudah terlupakan saat kami berdua asyik. Aku memeluk Mbak Mirna dari belakang. Aku menempelkan bibirku ke telinganya.

“Terimakasih ya mbak”, bisikku sedikit parau.
“Ah, iya terima kasih”, jawabnya dengan senyum yang sangat manis.

Aku mencium tengkuknya dengan lembut, lalu perlahan kujilati telinga sambil mengerang untuk memikat mbak Mirna kembali. Otong masih ngaceng, mau tanya lagi. Aku menempelkan ujungnya ke pantatnya, perlahan kugesek – gesek. Tanganku mulai berakting lagi.

Aku menjelajahi vagina basah. Sperma saya meleleh dari vaginanya dan membasahi pahanya. Aku memainkan cairan putih itu. Klitorisnya mulai tegang lagi. Tanganku terangkat, meremas dadanya yang padat. Awalnya lembut lalu mengeras dan mengeras. Mbak Mirna merintih mudah. Keledai bodohnya mulai digosok – gosok kembali untuk menyentuh Otong.

Tidak tahan lagi, saya pasang pussy dari belakang. Aku sedang berlutut di tubuh Mirna. Mbak Mirna yang berada dalam posisi telungkup dan di bawah tidak bisa berbuat banyak. Di bentangan kakinya yang mulus dan tangga itu memudahkannya masuk. Dengan tangannya meremas dan memutar payudara dan putingnya, aku memompa mbak Mirna dengan penuh semangat.

“Oh … sangat bagus Di, mbak seneng posisi sama …”, katanya terengah-engah.

Aku mencium tengkuknya dengan gigih. Mbak Mirna hanya bisa menggelepar kenyamanan.

Segera klimaks Mirna untuk kedua kalinya. Terlepas dari Mbak Mirna yang terus mengejar saya mempercepat ayunan. Suara yang dihasilkan dari kecepatan dan kelembaban kubah Mirna membuatku semakin bersemangat. Untuk waktu yang lama Ms. Mirna menyalakan selimut sampai akhirnya aku keluar. Kali ini saya menyemprot sperma saya ke pantatnya. Karena saya sudah mencapai klimaks tiga kali, air saya tidak sebanyak semprotan pertama dan kedua, tapi cukup untuk melembabkan indra mbak yang merangsang Mirna.

Akhirnya aku bertemu lagi di mbak Mirna.

“Crazy, mbak up lima kali berturut-turut lho Di …”, kata mbak Mirna manja.
“Hah …? Lima kali berturut-turut? Gila …. Pasti enak rasanya …”, jawabku dengan iri.

Mbak Mirna hanya tertawa manja.